Sabtu, 10 November 2012

Sejarah Geologi dan Geomorfologi
Bandung Utara
Ceritanya panjang sekali, sebab kita musti balik kembali ke masa silam, 20 ‑ 15 juta tahun yang Ialu, tatkala dataran tinggi Bandung niasih terletak di dasar lautan. Pada waktu itu, pulau Jawa sebelah Utara masih merupakan samudera. Hanya bagian Selatannya saja yang berujud tanah dataran dengan pesisirnya tak jauh di sebelah Selatan Pengalengan sekarang. Beberapa pulau volkanik terdapat di depan pantai itu. Sisa lapisan ‑ lapisan yang diendapkan 20 juta tahun yang Ialu, kini masih bisa disaksikan di daerah Purwakarta dan Subang. Batuan ‑ batuan Napal dan Gamping (karang) yang ditemukan mengandung fosil binatang laut Foraminifera, seperti Cyoloclypeus dan Lepidecyclina (Kusumadinata, 1959).
Secara bertahap pantai laut Jawa yang semula terletak di Selatan Pengalengan (Kabupaten Bandung), lama – lama bergeser makin ke Utara, tak jauh dari Kota Bandung. Ini terjadi pada periode revolusioner, di akhir jaman Miosen (25 - 14 juta tahun yang Ialu). Pergeseran pantai Laut Jawa ke arah utara Bandung diakibatkan oleh pembentukan gunung (orogenese) dan proses pelipatan lapisan bumi. Sedimen yang terlipat, kemudian muncul di atas laut.
Masa berikutnya kembali mengalami periode istirahat, di mana kegiatan volkanik dan sedimentasi cekungan dalam laut di Utara Bandung mengakibatkan munculnya bukit bukit Selacau yang bentuknya mirip piramida.
Pada akhir Pliosen (dua juta tahun yang lalu) terjadi lagi periode revolusioner berupa tekanan dari sedimen, hingga terjadi proses pembentukan gunung, disusul menghilangnya Selacau.
Pada permulaan periode Plestosen (1 juta tahun yang lalu), beberapa kegiatan volkanik di daerah Utara Bandung sempat membentuk kumpulan gunung api, ukuran dasarnya sebesar 20 km dengan ketinggian, antara 2.000 - 3.000 Mtr.
Gunung ini dikenal sebagai Gunung .Sunda, sebuah gunung raksasa dengan sebuah kaldera di puncaknya. Sedangkan Gunung Burangrang hanya merupakan parasit dari gunung itu (Prof.Dr.Th.H.F.Klompe, "The Geology of Bandung-, 1956). Masih pada periode Plestosen itu juga, Gn.Sunda runtuh diikuti oleh terjadinya Patahan Lembang. Sebuah rekaman geologi dari periode itu, masih dapat dilihat dalarn bentuk endapan binatang Vertebrata di penyayatan sungai Citarum sebelah barat Batujajar, seperti yang diteraukan oleh Stehn dan Umbgrove (1929).
Pada jaman Holosen, 11 ribu tahun yang lalu, lahirlah Gunung Tangkubanparahu sebagai anak dari kaldera Gunung.Sunda, dan gunungapi itu menutupi bagian timur sisa gunungapi lama. Paling tidak gunung itu telah mengalami 3 kali erupsi besar yang mengeluarkan lava dan abu yang menimpa daerah sebelah utara Bandung.
Erupsi besar kedua dari Gunung Tangkubanparahu, yang menurut Cerita Rakyat (Legenda) adalah "perahu" yang tertelungkup ditendang Sangkuriang yang kesiangan, terjadi 6.000 tahun yang lalu.
Adapun muntahan dari erupsi besar kedua itu, tersebar di sebelah barat Ciumbuleuit (Bandung) dan sebagian lagi sempat menyumbat sungai Citarum yang mengalir di lembah Cimeta (utara Padalarang), sehingga terbentuklah "Danau Bandung". Sebuah danau yang sering juga disebut oleh manusia jaman baheula sebagai "Situ Hiang".
Baru sekitar 4000 - 3.000 tahun yang lewat, Danau Bandung mulai surut airnya dan muncullah Dataran Tinggi Bandung. Danau itu mulai kering menyusut, tatkala sungai Citarum yang tersumbat muntahan Gunung Tangkubanparahu atau Gunung Burangrang (?) bisa bebas mengalir kembali, dengan menembus bukit - bukit Rajamandala (sebelah barat Batujajar), melewati terowongan-alam Sanghiangtikoro.
Dataran tinggi Bandung yang terkenal akan kesuburannya, sekarang terletak ± 725 Mtr di atas permukaan laut, dikepung gunungapi dan di sebelah barat terdapat bukit bukit batu gamping. Endapan batu gamping yang membentuk bukit - bukit kapur Padalarang adalah bukti, bahwa daerah tersebut pernah terbenam di dasar laut.
Luas dataran tinggi yang di masa silam pernah jadi Situ Hiang (Danau Bandung), membentang dari Cicalengka di timur sampai Padalarang di arah barat, sejauh kurang lebih 50 km. Dari bukit Dago di utara sampai ke batas Soreang - Ciwidey di selatan berjarak 30 km. Kalau dihitung luas Danau Bandung keseluruhan, hampir tiga kali lipat DKI Jakarta. Suatu wilayah yang insya’allah bakal jadi daerah ‘”Bandung Raya” di kemudian hari. Sekedar ilustrasi tentang kedalaman Danau Bandung jaman baheula, yang airnya menggenangi sebagian besar Kota Bandung sekarang; tepian sebelah utara terletak di Jalan Siliwangi, utara Kampus ITB sekarang. Tinggi air di Stasiun Kereta Api diperkirakan 25 meter, sedangkan Alun-alun Bandung terbenam 30 meter. Menurut Geologiwan S.Darsoprajitno, kedalaman air 30 meter dapat mengapungkan kapal laut sebesar lebih dari 50.000 ton.
Gambaran dari luas Situ Hiang atau si Danau Bandung dapat kita lihat pada gambar di atas, di mana daerah berwarna biru muda adalah perkiraan luasnya Danau Bandung, sementara daerah berwarna merah tua adalah luas kota Bandung pada tahun 1981. 

Bandung Bagian  Selatan
http://rovicky.files.wordpress.com/2010/02/danau-bandung.jpg?w=468&h=289
Warna hijau dataran rendah, warna coklat dataran tinggi. Bandung memang berada di daerah tinggian. Namun kalau diperhatikan morfologinya, maka Bandung Selatan merupakan sebuah landaian. Bahkan terkesan mendatar. Morfologi yang datar dan dikelilingi tinggian ini sering disebutkan sebagai Cekungan Bandung (Bandung Basin). Batuan yang ada dibawa Bandung selatan ini diperkirakan hasil dari pengendapan sebuah danau. Bandung Selatan memang dahulu berupa danau. Bahkan sudah diselidiki endapannya yang menunjukkan bahwa Danau Bandung ini dahulu terisi air.

http://rovicky.files.wordpress.com/2010/02/danau-bandung_1.jpg?w=258&h=169
Bandung Danau Purba
Menurut M.A.C. Dam (1994) the Late Quaternary Evolution of the Bandung Basin: endapan terakhir (termuda) danau Bandung dg absolut dating C-14 berumur 16.000 tahun yang lalu!
Diperkirakan danau Bandung sudah tidak ada (kering)  sejak 16.000 tahun yang lalu. Pak Budi Brahmantyo seorang dosen ITB, yakin ketika manusia Dago Pakar atau Manusia Pawon hidup (3 – 6 ribu th yl), dataran Bandung hanya tinggal rawa-rawa yang luas, tetapi bukan danau. Hingga sekarang masih tersisa banyak ranca dan nama daerah berawalan ranca (alias rawa) di cekungan Bandung.
Sejak jaman sejarah hingga sekarang memang belum ada catatan yang mendeteksi adanya gempa bumi besar yang berpusat di sepanjang Sesar Lembang. Namun demikian dengan menggunakan data empiris, suatu retakan yang telah terbentuk dengan panjang lebih dari 20 km dapat memicu gempa dengan magnitude 6,5 – 7,0 yang merusak. Satu catatan yang mungkin cukup mengkhawatirkan adalah adanya gempabumi merusak pada tahun 1910 di Padalarang, yang boleh dikatakan berada pada zona ujung barat Sesar Lembang yang bertemu dengan sesar aktif Cimandiri yang berawal dari Palabuhanratu, Sukabumi.
Menurut Bapak Irwan Meilano, pakar Geodesi ITB, kecepatan laju geser dari sesar lembang setiap tahun adalah 2 mm. Itu adalah hasil rata-rata, bisa lebih pada suatu tempat, dan bisa kurang di suatu tempat. Pengamatan ini menggunakan Global Position System, yang keakuratannya dapat dipercaya. Hal ini membuktikan sesar lembang masih aktif.
Daerah Sesar Lembang
Sesar lembang membentang sepanjang 22 kilometer dari Maribaya ke Cisarua. Di Cisarua jejak sesar tersebut menghilang sedangkan di Maribaya membelok ke selatan. Sesar Maribaya terhubung dengan sesar Cimandiri dan sesar Baribis yang aktif. Beberapa bangunan yang tepat berada di atas sesar Lembang antara lain adalah Kampung Dago Pakar, daerah wisata Tahura Juanda, Observatorium Bosscha, Sesko AU, Sespim Polri, Detasemen Kavaleri TNI-AD, dan Restoran The Peak. Daerah lain yang juga dilintasi Sesar Lembang adalah Gunung Palasari, Batunyusun, Gunung Batu & Gunung Lembang, Cihideung, dan Jambudipa bagian barat. Wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah pemukiman yang padat dan dapat berpotensi membahayakan.


Sesar Lembang dan sekitarnya
Peta Sesar Lembang, wisata bumi cekungan bandung
Dampak Aktifnya Sesar Lembang
Dari daerah yang dilaluinya, sesar lembang tentu daja mempunyai dampak-dampaknya bila dia aktif atau bergeser secara tiba-tiba.Getaran akibat pergerakan berada di bawah tanah. Ini memberikan pengaruh luas, namun tidak terlalu berbahaya. Namun, ini sangat bergantung pada tingkat kedalaman getaran. Patahan menyebabkan gempa di permukaan, yang dalam hal ini bisa merusak rumah. Karena gerakan patahan ini sukar diantisipasi, seharusnya sepanjang jalur patahan dihindari untuk didirikan rumah hunian, dan tanah di jalur patahan itu dibebaskan oleh negara.
Menurut Agus, dengan memperhatikan morfologi yang terbentuk, maka sesar Lembang termasuk dalam kategori sesar normal. Bagian utara sesar bergerak turun sementara bagian selatan terangkat. Akibat dari proses tektonis ini, maka terbentang suatu gawir (lereng) yang merupakan bidang gelincir sesar Lembang. “Sesar lembang membentang sepanjang 22 kilometer dari Maribaya ke Cisarua. Di Cisarua jejak sesar tersebut menghilang sedangkan di Maribaya membelok ke selatan. Sesar Maribaya terhubung dengan sesar Cimandiri dan sesar Baribis yang aktif,” ujar Agus, dalam Kuliah Umum Sesar Lembang dan Hubungannya Dengan Masyarakat Bandung di Institut Teknologi Bandung, Jumat 26 Maret 2011.
Sesar Cimandiri adalah sesar yang terletak di Sukabumi Selatan, membentang dari daerah Pelabuhan Ratu hingga Gandasoli. Sementara Sesar Baribis adalah sesar yang di berada di bagian utara Jawa, membentang mulai dari Purwakarta hingga ke daerah Baribis, sebelah barat Gunung Ciremai, di Kadipaten-Majalengka Jawa Barat. Pada kesempatan yang sama, peneliti Geoteknologi LIPI Eko Yulianto, membeberkan beberapa bangunan yang tepat berada di atas sesar Lembang. Bangunan-bangunan itu antara lain Observatorium Bosscha, Sesko AU, Sespim Polri, Detasemen Kavaleri TNI-AD, dan Restoran The Peak.
Lebih jauh, Agus menjelaskan, beberapa bagian sesar Lembang yang terangkat, antara lain adalah Gunung Palasari, Batunyusun, Gunung Batu & Gunung Lembang, Cihideung, The Peak, dan Jambudipa bagian barat. Wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah pemukiman yang padat dan dapat berpotensi membahayakan.
Jika terjadi pergerakan di patahan itu, Eko mengatakan, maka akan dapat memicu gempa bumi dan yang akan mengancam hidup banyak orang.



SESAR (FAULT).
http://2.bp.blogspot.com/-GcKhXHCfzaw/T1UVT5QyAeI/AAAAAAAAAD8/ZV9-lPo_o7U/s640/GEOMAGZ201103.bmp

Dan yg menariknya adalah pro-kontra para praktisi ilmu kebumian yg memperdebatkan apakah sesar ini saat ini aktif apa tidak. Sekedar catatan untuk orang awam adalah, aktif tidaknya sesar dapat menjadi indikasi aktivitas kegempaan pada suatu region. Karna apabila sesar lembang aktif, berarti ada aktivitas pergerakan lempeng pada daerah tersebut yg artinya memungkinkan wilayah tersebut dapat mengalami gempa.
Sejak jaman sejarah hingga sekarang memang belum ada catatan gempa bumi besar yang berpusat di sepanjang Sesar Lembang. Namun demikian dengan menggunakan data empiris, suatu retakan yang telah terbentuk dengan panjang lebih dari 20 km dapat memicu gempa dengan magnitude 6,5 – 7,0 yang merusak. Satu catatan yang mungkin cukup mengkhawatirkan, adanya gempa bumi merusak pada tahun 1910 di Padalarang, yang boleh dikatakan berada pada zona ujung barat Sesar Lembang yang bertemu dengan sesar aktif Cimandiri yang berawal dari Palabuhanratu, Sukabumi. Di dalam Geologi, kategori sesar aktif mula-mula merujuk kepada sesar yang terbentuk pada Zaman Kuarter, yaitu rentang waktu dari sekarang hingga 2 juta tahun yang lalu. Namun akhir-akhir ini kategori keaktifan sesar dipersempit hingga Kala Holosen, hingga 10.000 tahun yang lalu.
Hasil penelitian yang pernah dilakukan para peneliti Belanda Nossin, dan kawan-kawan pada 1996 menduga kemungkinan pergeseran Sesar Lembang, khususnya segmen timur, bertepatan dengan pembentukan kaldera Sunda 100.000 tahun yang lalu. 
Pendapat ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penelitian sangat awal yang dilakukan R.W. van Bemmelen yang kemudian dibukukan dalam “The Geology of Indonesia” yang diterbitkan tahun 1949. Namun untuk segmen barat, penelitian Nossin dan kawan-kawannya di daerah Panyairan, Cihideung, terhadap endapan gambut, menunjukkan bahwa segmen barat diperkirakan terakhir aktif sekitar 27.000 tahun yang lalu. Jika kategorinya 10.000 tahun sebagai batasan sesar aktif, informasi ini akan membuat Sesar Lembang berkategori “tidak aktif.” Kemudian muncullah hasil-hasil temuan dari penelitian yang dilaksanakan Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI yang dimotori Eko Yulianto selama 2007 – 2010.
Eko Yulianto meneliti keaktifan sesar melalui apa yang disebut sebagai endapan sag-pond. Sag pond adalah genangan yang terbentuk akibat terhambatnya drainase sungai yang terjadi akibat pembentukan dinding penghalang karena pergerakan sesar. Air sungai akan tergenang dan pembentukan lumpur serta endapan gambut akan terjadi di dalamnya. Jika endapan-endapan ini terjadi berlapis-lapis di bawah tanah, dapat diperkirakan bahwa pembentukan genangan terjadi berkali-kali melalui mekanisme pergerakan sesar. Begitulah apa yang ditemukan Eko Yulianto dari hasil pengeboran endapan di sekitar Pasir Sereh, Cihideung.  Dari temuannya itu, sekalipun dalam data yang masih terbatas, Eko Yulianto memperkirakan bahwa sedikitnya 1000 tahun yang lalu, Sesar Lembang pernah aktif. Ketika keaktifannya membentuk genangan luas, diperkirakan hal tersebut terbentuk oleh mekanisme pergerakan sesar yang menimbulkan gempa bumi berkekuatan tinggi. Informasi ini dengan pasti menunjukkan bahwa Sesar Lembang tergolong sesar aktif sekalipun belum ada gempa besar selama masa manusia modern yang melanda kawasan ini.
Tetapi lebih jauh lagi, hasil penelitian Geodesi ITB melalui pengamatan titik-titik yang diukur melalui GPS, memang telah dan sedang terjadi pergeseran di sekitar Sesar Lembang. Sebuah cetakan citra SPOT pengambilan Juli 2006 sangat jelas menggambarkan citra udara wilayah sekitar Gunung Tangkubanparahu, Sesar Lembang, dan dataran Cekungan Bandung. Dari citra itu, interpretasi kelurusan-kelurusan menunjukkan kemungkinan adanya retakan-retakan yang terbentuk di permukaan bumi wilayah itu. Kelurusan paling mencolok tentu saja garis hampir berarah timur-barat, yaitu jalur struktural Sesar Lembang. Namun selain itu, banyak kelurusan dapat diinterpretasi yang umumnya juga berarah barat-timur sejajar Sesar Lembang di sekitar Perbukitan Dago (Bandung Utara), sekitar kota Lembang hingga lereng selatan jajaran Gunung Burangrang – Gunung Tangkubanparahu – Gunung Bukittunggul.
Hasil interpretasi juga menunjukkan adanya kemenerusan Sesar Lembang ke arah Ci Meta di barat laut Padalarang. Perkiraan lain, pertemuan Sesar Lembang dengan Sesar Cimandiri di sekitar Padalarang berupa perpotongan antara retakan-retakan itu. Apapun kaitan antara fenomena-fenomena geologis itu, kedua sesar itu mempunyai hubungan yang oleh satu dan sebab lain akan menjadikan keduanya menjadi media rambat gelombang gempa bumi.

http://3.bp.blogspot.com/-JNQBBgxiJ3o/T1UVw6WGJSI/AAAAAAAAAEE/kzI59D7ErQQ/s1600/GEOMAGZ201103.bmpa.bmp
Morfologi Sesar Lembang segmen timur, dari Gunung Palasari (kiri), Maribaya (tengah) dan Pasir Lembang, tempat Observatorium Bosscha berada (kanan).
Kekhawatiran terpicunya gempa bumi besar karena keberadaan Sesar Lembang sudah mulai diperhitungkan. Selain sebagai media rambat gelombang gempa bumi dari sesar-sesar aktif lainnya di Jawa Barat, Sesar Lembang dapat juga menjadi sumber gempa bumi itu sendiri. Untuk itulah petapeta kerawanan bencana gempa bumi ke arah Kota Bandung yang berpenduduk padat mulai dibuat. Diantaranya peta percepatan gelombang gempa bumi yang menunjukkan daerah rawan bencana selain di sepanjang jalur sesar, juga merambat ke arah selatan Bandung, pada daerah-daerah bekas endapan danau yang bertanah fondasi kurang mantap. Peta-peta ini sudah cukup berharga untuk membuat kita waspada, karena gempa bumi sulit diprediksi!
Ketika kita sulit menentukan kapan datangnya gempa bumi, maka usaha terbaik adalah bagaimana kita mempersiapkan diri jika gempa itu benar-benar datang. Itulah usaha mitigasi bencana, yaitu usaha untuk meminimalkan risiko atau akibat dari bencana. Mitigasi terbagi ke dalam dua jenis, yaitu secara struktural berupa penataan ruang atau kode bangunan, dan secara non-struktural berupa pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat bagaimana selamat dari bencana. Saran-saran arsitek perlu diperhatikan dalam membangun bangunan di kawasan rawan bencana akibat gempa bumi. Diantaranya adalah tiang yang kuat, struktur yang sederhana, bahan yang ringan, dan lokasi yang aman (misalnya tidak di tebing atau pada jalur sesar aktif). Begitulah mitigasi struktural yang mencakup syarat bangunan dan tata perwilayahan ruangnya.

http://2.bp.blogspot.com/-LxYcK5EZlHc/T1UWp1Tx7tI/AAAAAAAAAEM/-wMLODhPgN8/s1600/GEOMAGZ201103.bmpb.bmp
Pasir Sereh, Cihideung, Jl. Sersan Bajuri, Lembang, merupakan bidang sesar yang tanahnya longsor pada akhir 2010 lalu. Lembah di depannya menjadi cekungan sag-pon yang merekam gerakan sesar di masa lalu.
http://1.bp.blogspot.com/-KvkEZo1OL3o/T1UWucXTCAI/AAAAAAAAAEU/UK2z8FMpW0M/s1600/GEOMAGZ201103.bmpc.bmp
Hasil sementara vektor pergeseran di sekitar Sesar Lembang pengukuran dengan GPS antara 2006 – 2010
(Sumber: Slide Meilano, dkk. 2011 pada Kuliah Umum tentang Sesar Lembang, Great, ITB)


Cekungan Bandung merupakan cekungan (basin) yang dikelilingi oleh gunung api dengan ketinggian 650 m sampai lebih dari 2000 meter. Sungai Citarum yang berhulu di gunung Wayang Kabupaten Bandung (1700 m dpl) melewati dasar cekungan dan mengalir menuju Waduk Saguling, bermuara di pantai utara Jawa tepatnya di Kabupaten Karawang. Berdasarkan ciri-ciri litologi, Cekungan Bandung terbagi atas 4 bagian berdasarkan batuan penyusunnya yaitu: endapan tersier, hasil gunung api tua, hasil gunung api muda dan endapan danau (Narulita et al., 2008). Untuk penjelasan terhadap geologi Cekungan Bandung berdasarkan studi pustaka, dapat dijabarkan dalam beberapa sub bab sebagai berikut:
1.  Morfologi
Terkait dengan batas wilayah Cekungan Bandung, terdapat 4 anggapan mengenai batas luas yaitu:
a. Dataran Tinggi Bandung (wilayah administratif Kota Bandung saat ini kecuali kecuali kawasan Kota Bandung utara yaitu sebelah utara jalan raya timur meliputi: Surapati-Cicaheum-Ujungberung-Cileunyi).
b. Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu.
c. Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum-Rajamandala (Waduk Saguling).
d. Batas Administratif Kabupaten Bandung Bagian Barat.
Batasan Cekungan Bandung adalah daerah yang didasarkan pada sebaran endapan danau Bandung purba yang secara morfologis membentuk Dataran Danau Bandung dan daerah sekelilingnya yang merupakan sumber asal endapan danau (Brahmantyo, 2005). Sehingga Cekungan Bandung adalah cekungan topografi yang membentuk daerah pengaliran Citarum hingga berakhir di titik aliran Citarum pada daerah perbukitan Rajamandala (Pasir Kiara-Pasir Larang, berdekatan dengan poros bendungan Saguling). Definisi batasan Cekungan Bandung ini sesuai dengan anggapan ke-3 yaitu DAS Citarum-Rajamandala (Waduk Saguling)  (Brahmantyo, 2005).
Untuk identifikasi satuan bentang alam, Cekungan Bandung dapat dibagi menjadi beberapa satuan bentang alam (Sampurno, 2004), sebagai berikut:
Satuan Dataran Danau Bandung
Satuan Dataran Danau Bandung berukuran cukup luas dengan ukuran kurang lebih 750 km persegi yang memanjang ke arah barat-timur, terletak pada ketinggian sekitar 700 m dpl. Luas dataran ini sekitar 20 persen dari seluruh Cekungan Bandung. Dataran ini merupakan dataran endapan danau Bandung purba yang telah mengering ribuan tahun yang lalu. Sungai utama dari dataran ini adalah Citarum yang membelah dataran danau sehingga Ci Tarum terletak pada titik terendah pada Cekungan Bandung. Di dalam satuan dataran danau terdapat Dataran Kipas Aluvial yang menempati seperlima luas Dataran Danau Bandung. Dataran Kipas Aluvial menyebar hingga meliputi daerah Cimahi-Dago sebagai batas utara menuju Cicaheum dan Buah Batu. Citarum mengalir di Dataran Danau Bandung dengan pola meander berkelok-kelok khususnya di sebelah utara Ciparay hingga Curug Jompong (sebelah selatan Cimahi).
b. Satuan Dataran Danau Bandung
Satuan Kerucut Gunung Api merupakan pagar yang mengelilingi dataran danau, menempati sekitar 70 persen dari seluruh luas daerah Cekungan Bandung.  Satuan ini terdiri dari badan gunung api kuarter dengan ketinggian sekitar 2000 m. Di sebelah utara berjajar deretan gunung api Burangrang, Tangkuban Perahu (2076 m), Bukit Tunggul, Canggak, Manglayang. Untuk di sebelah timur terdapat kerucut-kerucut gunung api kecil-kecil antara lain Mandalawangi (1650 m), Mandalagiri, Gandapura dan lain sebagainya. Bagian selatan terdapat dataran danau berjajar gunung api Malabar (2343 m), Patuha (2434 m) dan lain sebagainya. Diantara gunung-gunung api tersebut masih banyak ditemui endapan-endapan vulkanik seperti breksi vulkanik, tufa, beberapa lidah-lidah lava. Tufa di daerah Lembang dan Dago kaya akan batu apung dan bersifat tras. Ke arah Satuan Dataran Danau, kerucut gunung api menjadi melandai membentuk kaki gunung api dimana kemiringan lahannya berkisar 5 hingga 15 persen.
c. Satuan Pematang Homoklin
Satuan Pematang Homoklin adalah perbukitan memanjang yang membentuk daerah perbukitan Rajamandala-Padalarang, memanjang kurang lebih dengan arah timur timur laut- barat barat daya. Kedudukan satuan ini berada di dinding barat dari Cekungan Bandung dimana terdapat celah aliran Ci Tarum yang membelah perbukitan. Memiliki ketinggian sekitar 800-1000 m dpl dan seluas kurang lebih 7 persen dari luas total Cekungan Bandung. Pematang Homoklin menunjukkan bahwa lereng sebelah utara lebih terjal sekitar kurang lebih 30-140 persen dibandingkan daerah lereng sebelah selatan. Lereng selatan memiliki kemiringan lapisan pembentuknya sekitar rata-rata 30-60 persen. Ci Tarum menyusuri daerah di sebelah selatan perbukitan Rajamandala. Batuan-batuan pembentuknya adalah berbagai batuan sedimen marin tersier dari berbagai formasi antara lain batu gamping dan batu lempung.
d. Satuan Perbukitan Isolasi
Di dalam satuan dataran danau bermunculan bukit-bukit yang terpisah satu sama lain atau berkelompok menjadi jajaran perbukitan. Bukit-bukit tersebut dikelompokkan menjadi suatu Satuan Perbukitan Terisolasi yang terdapat di sebelah selatan Cimahi dan Dayeuhkolot dan berketinggian sekitar 800-900 m. Bukit-bukit tersebut antara lain Gunung Bohong (878 m), Gunung Pangaten, Gunung Koromong, Gunung Geulis dan lain sebagainya. Sungai-sungai yang berada di kaki perbukitan kerucut gunung api maupun yang berada di dataran danau mengandung berbagai jenis pasir untuk bahan bangunan.
2.  Geologi dan Sifat-Sifat Fisik Batuan
Litologi penyusun wadah dan isi Cekungan Bandung adalah batuan gunung api yang secara stratigrafi kegiatan vulkanismenya sudah dimulai sejak Kala Paleosen. Berdasarkan Bronto and Hartono (2006), kemungkinan pembentukan Cekungan Bandung disebabkan oleh 4 hal:
1. Merupakan cekungan antar gunung (intra-mountain basin), sebagai bentukan utamanya adalah eksogen.
2. Merupakan graben, sebagai bentukan murni deformasi tektonika.
3. Merupakan kaldera, sebagai bentukan murni letusan gunung api.
4.Merupakan volcano-tectonic calderas, sebagai hasil perpaduan proses tektonika dan  vulkanisme.
Cekungan Bandung terdiri atas berbagai formasi morfologi yang terdiri atas berbagai batuan berumur Oligosen hingga Resen. Batuan-batuan tersebut dikelompokkan dalam beberapa formasi (Sampurno, 2004 dan Hutasoit, 2009), sebagai berikut:
Formasi Cibeureum
Merupakan lapisan aquifer utama dengan sebaran berbentuk kipas yang bersumber dari Gunung Tangkubanparahu. Formasi ini terutama terdiri atas perulangan breksi dan tuf dengan tingkat konsolidasi rendah serta beberapa sisipan lava basal, dengan umur Plistosen Akhir-Holosen. Breksi dalam formasi ini adalah breksi vulkanik yang disusun oleh fragmen-fragmen skoria batuan beku andesit basal dan batu apung.
 Formasi Kosambi
Nama Formasi Kosambi diusulkan oleh Koesoemadinata dan Hartono (1981) untuk menggantikan nama Endapan Danau yang digunakan oleh Silitonga (1973). Sebaran formasi ini dipermukaan adalah di bagian tengah. Litologinya terutama terdiri atas batu lempung, batu lanau dan batu pasir yang belum kompak dengan umur Holosen. Formasi ini mempunyai hubungan menjemari dengan Formasi Cibeureum bagian atas. Berdasarkan sifat litologinya, formasi ini berperan sebagai akuintar di kawasan Cekungan Bandung.
Formasi Cikapundung
Formasi ini adalah satuan batuan tertua yang tersingkap di daerah penelitian (Koesoemadinata dan Hartono, 1981) dan terdiri atas konglomerat dan breksi kompak, tuf dan lava andesit. Umur formasi ini diperkirakan Plistosen Awal.
Kekompakan litologi penyusun formasi ini dapat digunakan sebagai salah satu pembeda dengan formasi Cibeureum serta dasar untuk menentukan peran formasi ini sebagai batuan dasar hidrogeologi di kawasan Cekungan Bandung. Menurut Silitonga (1973) formasi ini adalah ekuivalen dengan Qvu. Selain formasi ini, berdasarkan sifat litologinya Qvl, Qvb, Qob, dan Qyl dapat dimasukkan sebagai batuan dasar. Satuan-satuan lain yang membentuk batuan dasar adalah batuan gunung api Kuarter (kecuali Formasi Cibeureum dan Formasi Cikapundung), batuan gunung api Tersier, batuan sedimen Tersier, dan batuan terobosan yang tercakup didalam peta geologi.
c. Endapan Batuan Vulkanik (Kuarter)
Berbagai endapan gunung api dapat dipisahkan antara lain berdasarkan umur maupun komposisi. Umumnya terdiri dari breksi vulkanik, tufa, lidah-lidah lava, endapan lahar dan aglomerat. Tufa dari Gunung Tangkuban Perahu yang menyebar hingga Lembang, beberapa tempat di Dago, dan Kipas Aluvial Bandung utara, sebagian besar mengandung batu apung yang bersifat berpori dan permeabel. Tufa yang membentuk daerah Gunung Burangrang, Gunung Sunda, Gunung Bukit Tunggul, Gunung Canggak dan perbukitan Dago Utara hingga Maribaya terdiri atas breksi vulkanik berselingan dengan endapan lahar, tufa halus dan lidah-lidah lava. Sifat batuan umumnya sedikit kompak daripada tufa berbatu apung tetapi masih cukup permeabel. Lapisan endapan vulkanik di sebelah utara umumnya menunjukkan kemiringan ke arah selatan sekitar 5-7 derajat. Pada permukaannya, endapan vulkanik menunjukkan tanah hasil pelapukan yang bersifat gembur dan mudah terkikis tetapi subur.
d. Endapan Danau Purba
Terdiri dari lapisan-lapisan kerakal, batu pasir, batu lempung, tersemen, lemah, gembur dan terkadang kenyal. Beberapa lapisan bersifat permeabel dan menjadi akifer yang baik. Beberapa lapisan lain bersifat lembek, organik dan mempunyai daya dukung rendah dan air tanah yang dikandungnya dapat bersifat agak asam atau berbau sulfur. Kedudukan lapisan umumnya horisontal dengan hubungan antar lapisan kadang-kadang berbentuk silang jari.
e. Endapan Aluvial
Terdiri dari kerikil, pasir, lanau dari endapan sungai atau endapan banjir pada umumnya bersifat lepas sampai tersemen lemah, atau plastis bahkan dapat bersifat mengalir bila jenuh air. Pasir lepas dan kerakal endapan sungai masih mengandung cukup banyak lumpur.


Sebagai gambaran dari kondisi geologi kawasan Cekungan Bandung, dapat dilihat pada gambar 1, sebagai berikut:
Sumber Referensi:
Brahmantyo, 2004. Mencari Delineasi Geomorfologi Cekungan Bandung. Departemen Pekerjaan Umum: Jakarta
Brahmantyo, 2005. Geologi Cekungan Bandung. Diktat Kuliah. Institut Teknologi Bandung: Bandung
Hutasoit, 2009. Kondisi Permukaan Air Tanah Dengan Dan Tanpa Peresapan Buatan Di Daerah Bandung: Hasil Simulasi Numerik. Jurnal Geologi Indonesia: Bandung


Sejarah Bandung
http://1.bp.blogspot.com/_pMIRnj83O44/TM5vslwMV6I/AAAAAAAAACw/JMi_RV7foRc/s640/telagabandung.jpg
Gunung Sunda Purba
Berdasarkan penelitian dan ditenggarai ditemukannya bukti-bukti alam terbentuknya daratan Bandung purba yang sangat berharga. Di antaranya kars (batu kapur) di Citatah, Padalarang, Kab. Bandung Barat, sebagai bukti daerah itu pada zaman Miosen awal (23 – 17 juta tahun lalu) pantai utara (pantura) ada di sana. Kini kawasan itu dikenal antara lain dengan Karangpanganten, Karanghawu, Pasir (Bukit Pabeasan), dll.
Bandung kota dan sekitarnya, pada masa lampau merupakan danau yang dikenal dengan Danau Bandung. Keadaan yang sekarang terlihat merupakan pedataran yang biasa disebut dengan istilah “Cekungan Bandung” (BandungBasin). Daerah sekitar cekungan tersebut, diperkirakan dahulu merupakan tepian danau sehingga banyak diperoleh sisa-sisa aktivitas manusia masa lampau (Koesoemadinata, 2001).
Van Bemmelen, 1935, meneliti sejarah geologi Bandung. Pengamatan dilakukan terhadap singkapan batuan dan bentuk morfologi dari gunung api-gunung api di sekitar Bandung. Penelitian yang dilakukan berhasil mengetahui bahwa danau Bandung terbentuk karena pembendungan Sungai Citarum purba. Pembendungan ini disebabkan oleh pengaliran debu gunung api masal dari letusan dasyat Gunung Tangkuban Parahu yang didahului oleh runtuhnya Gunung Sunda Purba di sebelah baratlaut Bandung dan pembentukan kaldera di mana di dalamnya Gunung Tangkuban Parahu tumbuh. Van Bemmelen secara rinci menjelaskan, sejarah geologi Bandung dimulai pada zaman Miosen (sekitar 20 juta tahun yang lalu). Saat itu daerah Bandung utara merupakan laut, terbukti dengan banyaknya fosil koral yang membentuk terumbu karang sepanjang punggungan bukit Rajamandala. Kondisi sekarang, terumbu tersebut menjadi batukapur dan ditambang sebagai marmer yang berpolakan fauna purba.
Bukit pegunungan api diyakini masih berada di daerah sekitar Pegunungan Selatan Jawa. Sekitar 14 juta sampai 2 juta tahun yang lalu, laut diangkat secara tektonik dan menjadi daerah pegunungan yang kemudian 4 juta tahun yang lalu dilanda dengan aktivitas gunung api yang menghasilkan bukit-bukit yang menjurus utara selatan antara Bandung dan Cimahi, antara lain Pasir Selacau. Pada 2 juta tahun yang lalu aktivitas vulkanik ini bergeser ke utara dan membentuk gunung api purba yang dinamai Gunung Sunda, yang diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 3000 m di atas permukaaan air laut. Sisa gunung purba raksasa ini sekarang adalah punggung bukit.
Sekitar Situ Lembang (salah satu kerucut sampingan sekarang disebut Gunung Sunda) dan Gunung Burangrang diyakini sebagai salah satu kerucut sampingan dari Gunung Sunda Purba ini. Sisa lain dari lereng Gunung Sunda Purba ini terdapat di sebelah utara Bandung, khususnya sebelah timur Sungai Cikapundung sampai Gunung Malangyang, yang oleh van Bemmelen (1935, 1949) disebut sebagai Blok Pulasari. Pada lereng ini terutama ditemukan situs-situs artefak, yang diteliti lebih lanjut oleh Rothpletz pada zaman Jepang dan pendudukan Belanda di Masa Perang Kemerdekaaan. Sisa lain dari Gunung Sunda Purba ini adalah Bukit Putri di sebelah timur laut Lembang (Koesoemadinata, 2001).
Gunung Sunda Purba itu kemudian runtuh, dan membentuk suatu kaldera (kawah besar yang berukuran 5-10 km) yang ditengahnya lahir Gunung Tangkuban Parahu, yang disebutnya dari Erupsi A dari Tangkuban Parahu, bersamaan pula dengan terjadinya patahan Lembang sampai Gunung Malangyang, dan memisahkan dataran tinggi Lembang dari dataran tinggi Bandung. Kejadian ini diperkirakan van Bemmelen (1949) terjadi sekitar 11.000 tahun yang lalu.
Suatu erupsi cataclysmic kedua terjadi sekitar 6000 tahun yang lalu berupa suatu banjir abu panas yang melanda bagian utara Bandung (lereng Gunung Sunda Purba) sebelah barat Sungai Cikapundung sampai sekitar Padalarang di mana Sungai Citarum Purba mengalir ke luar dataran tinggi Bandung. Banjir abu vulkanik ini menyebabkan terbendungnya Sungai Citarum Purba, dan terbentuklah Danau Bandung.

http://4.bp.blogspot.com/_pMIRnj83O44/TM5x2k0kRpI/AAAAAAAAAC0/hzjxKjDUPTM/s640/Gunungsunda.jpg
Tahun 90-an, Dam dan Suparan (1992) dari Direktorat Tata Lingkungan Departemen Pertambangan mengungkapkan sejarah geologi dataran tinggi Bandung. Penelitian ini menggunakan teknologi canggih seperti metoda penanggalan pentarikhan radiometri dengan isotop C-14 dan metode U/Th disequilibirum. Dam melakukan pengamatan terhadap perlapisan endapan sedimen Danau Bandung dari 2 lubang bor masing-masing sedalam 60 m di Bojongsoang (Kabupaten Bandung) dan sedalam 104 m di Sukamanah (Kabupaten Bandung); melakukan pentarikhan dengan metoda isotop C-14 dan 1 metoda U/Th disequilibirum; dan pengamatan singkap dan bentuk morfologi di sekitar Bandung. Berbeda dengan Sunardi (1997) yang mendasarkan penelitiannnya atas pengamatan paleomagnetisme dan pentarikhan radiometri dengan metode K-Ar.
Simpulan penting adalah bahwa pentarikhan kejadian-kejadian ini jauh lebih tua daripada diperkirakan oleh van Bemmelen (1949), kecuali periode pembentukanGunung Sunda Purba serta kejadian-kejadian sebelumnya. Keberadaan danau purba Bandung dapat dipastikan, bahkan turun naiknya muka air danau, pergantian iklim serta jenis floranya dapat direkam lebih baik (van der Krass dan Dam, 1994).

http://4.bp.blogspot.com/_KtvFYFCh0wk/S5eXjPp-lrI/AAAAAAAAARQ/YOyUHHvCycI/s320/images.jpg

Hasil yang diperoleh, pembentukan danau Bandung bukan disebabkan oleh suatu peristiwa ledakan Gunung Sunda atau Tangkuban Parahu, tetapi mungkin karena penurunan tektonik dan peristiwa denudasi dan terjadi pada 125 KA (kilo-annum/ribu tahun) yang lalu (Dam et al, 1996).
Keberadaan Gunung Sunda Purba dipastikan antara 2 juta sampai 100 juta tahun yang lalu berdasarkan pentarikhan batuan beku aliran lava, antara lain di Batunyusun timur laut Dago Pakar di Pulasari Schol (1200 juta tahun), Batugantung Lembang 506 kA (ribu tahun) dan di Maribaya (182 dan 222 kA). Memang suatu erupsi besar kataklismik (cataclysmic) terjadi pada 105 ribu tahun yang lalu, berupa erupsi Plinian  yang menghasilkan aliran besar dari debu panas yang melanda bagian baratlaut Bandung dan membentuk penghalang topografi yang baru di Padalarang (Kabupaten Bandung Barat), yang mempertajam pembentukan danau Bandung. Erupsi besar ini diikuti dengan pembentukan kaldera atau runtuhnya Gunung Sunda yang diikuti lahirnya Gunung Tangkuban Parahu beberapa ratus atau ribu kemudian, yang menghasilkan aliran lava di Curug Panganten (Kota CImahi) 62 ribu tahun yang lalu, sedangkan sedimentasi di danau Bandung berjalan terus.
Suatu ledakan gunung api cataclysmic kedua terjadi antara 55 dan 50 ribu tahun yang lalu, juga berupa erupsi Plinian dan melanda Bandung barat laut, sedangkan aliran-aliran lava di Curug Dago dan Kasomalang (Subang), terjadi masing-masing 41 dan 39 ribu tahun yang lalu. Sementara itu, sedimentasi di Danau Bandung berjalan terus, antara lain pembentukan suatu kipas delta purba yang kini ditempati oleh Kota Bandung pada permukaan danau tertinggi. Akhir dari Danau Bandung pun dapat ditentukan pentarikhannya yaitu 16 ribu tahun yang lalu.



Sejarah Geologi dan Geomorfologi
Bandung Utara

Disusun oleh    :
1.          Desy inayati 3201411003
2.          Prasifita F K 3201411014
3.          Desty A K 3201411015
4.          Teta Pradini A 3201411016
5.          Ika Yunita 3201411023
6.          Ekananda 3201411026
7.          Delia Ekky C 3201411027
8.          Sigit bayhu I 3201411028
9.          Elvita S 32014110
10.      Ulfatun N 32014110
11.      Oktaviani R 32014110
12.      Arifianti H 32014110

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar